JAKARTA, INDONEWSIA.ID – Robot humanoid buatan China kembali menjadi sorotan. Setelah sempat memikat perhatian publik lewat demonstrasi menari dan kemampuan interaktif di berbagai pameran teknologi, kini robot-robot tersebut mulai diuji di lingkungan yang jauh lebih keras: lantai pabrik dan industri manufaktur.
Sejumlah laporan media internasional seperti South China Morning Post dan Digitimes Asia mencatat bahwa hingga akhir 2025, robot humanoid China masih menghadapi tantangan besar.
Produktivitasnya belum melampaui pekerja manusia, sementara biaya produksi, perawatan, dan waktu henti masih tergolong tinggi. Kondisi ini membuat adopsi robot humanoid di industri berjalan lebih lambat dari ekspektasi.
Namun, para analis menilai situasi ini bisa berubah cepat. Pemerintah China secara terbuka menempatkan robot humanoid sebagai bagian dari strategi industri jangka panjang. Investasi besar terus mengalir, rantai pasok robotika diperkuat, dan pengembangan kecerdasan buatan diarahkan agar robot mampu bekerja lebih stabil dan mandiri di lingkungan industri.
Jika pada 2026 produsen China berhasil menurunkan biaya secara signifikan sekaligus meningkatkan keandalan dan produktivitas robot, dunia diperkirakan akan memasuki babak baru otomasi. Robot humanoid tidak lagi sekadar alat demonstrasi, tetapi mulai berperan sebagai pekerja industri untuk tugas-tugas tertentu seperti logistik internal, inspeksi, dan pekerjaan berulang berisiko tinggi.
Saat ini, sebagian besar pesanan robot humanoid masih berasal dari investor strategis dan institusi nonindustri. Namun pengamat menilai, keberhasilan di pabrik nyata akan menjadi kunci pembuktian. Tanpa itu, robot humanoid berisiko berhenti sebagai simbol ambisi teknologi semata.
China tetap berada di posisi terdepan dari sisi riset dan paten robot humanoid global. Dengan keunggulan tersebut, tahun 2026 dipandang sebagai titik penentu: apakah robot humanoid akan benar-benar mengubah wajah industri dunia, atau kembali tertahan oleh keterbatasan teknologi dan ekonomi.
Jika China berhasil melewati ujian itu, era baru robot humanoid bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas industri global.









