Budaya  

Sebuah Refleksi Pertemuan Tradisi Imlek, Nyorog, dan Munggahan di Jakarta

Tahun ini, budaya Betawi, Tionghoa, dan Islam bertemu dalam satu momentum, dari ikan bandeng yang sarat makna, tradisi Nyorog, hingga kegembiraan menyambut Ramadan melalui Munggahan.

Avatar photo

JAKARTA – Perayaan Imlek di Indonesia menunjukkan akulturasi antara budaya Tionghoa dan Betawi. Salah satu simbol utamanya adalah ikan bandeng, yang bukan sekadar makanan, tetapi lambang kemakmuran dan penghormatan bagi kedua masyarakat.

Menurut situs Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang dikelola Kemendikbud, ikan bandeng sarat simbolisme.
Dalam bahasa Mandarin, kata “ikan” atau Yu terdengar mirip kata “rezeki”, sehingga bandeng menjadi lambang kemakmuran dan rezeki berlimpah. Dahulu, di pesisir dan tambak Batavia, ikan lain seperti barakuda, salmon, atau hiu bisa lebih mudah didapat.

Namun bandeng dipilih karena filosofinya: duri yang banyak melambangkan rumitnya kehidupan, menuntut kehati-hatian dalam menghadapi tantangan. Cara memakannya pun sarat makna. Tradisi “ketulangan” mengajarkan kesabaran agar durinya tidak termakan. Biasanya duri disiasati dengan menelan pisang Ambon atau pisang kepok tanpa dikunyah. Filosofi ini mengajarkan kesabaran, kecermatan, dan strategi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada hari ke-15 Cap Go Meh, bandeng disajikan sebagai sayur pucung, sayur kuning, presto, atau aneka kuliner lainnya. Hidangan ini menjadi penanda identitas dan akulturasi Betawi-Tionghoa yang telah hidup ratusan tahun.

Selain bandeng, Betawi mengenal tradisi Nyorog, mendatangi orang yang lebih tua dengan jinjingan atau bingkisan sebagai bentuk hormat dan silaturahmi. Dalam era modern, nyorog lebih praktis, bisa berupa jinjingan, uang, atau tembakau.

Tradisi ini juga kerap dilakukan saat berkunjung ke rumah calon mertua atau istilahnya Ngelancong, menegaskan nilai hormat, kebersamaan, dan kekerabatan.

Tahun ini, karena Imlek berdekatan dengan Ramadan, nyorog menemukan momentum baru dalam Munggahan, tradisi bergembira menyambut puasa. Munggahan bukan sekadar budaya lokal; ia bagian dari khazanah Islam Nusantara, yang mengajarkan kegembiraan dalam menyambut bulan suci sebagaimana disampaikan dalam beberapa riwayat populer.

Kegembiraan diekspresikan bukan hanya melalui makanan, tetapi juga pawai dan parade di sejumlah tempat, menandai datangnya bulan suci.

Di tahun ini, akulturasi budaya terlihat hidup: Betawi, Tionghoa, dan Islam bertemu dalam semangat kegembiraan, silaturahmi, dan berbagi. Dari bandeng, nyorog, hingga munggahan, warisan leluhur Betawi menekankan adat budaya yang sarat makna, edukatif, dan spiritual.

Refleksi ini mengajak masyarakat untuk tetap menjaga keterbukaan, kebersamaan, dan kegembiraan. Tradisi yang tidak dijaga esensinya bisa memudar, dan nilai budaya yang luhur bisa hilang seiring waktu.

Dengan perayaan yang harmonis dan penghormatan terhadap akar budaya, masyarakat dapat memastikan bahwa kegembiraan dan kebersamaan leluhur Betawi tetap hidup di masa kini dan masa depan.

Seperti ikan bandeng yang lebih elok disajikan dari kepala hingga buntut, mari kita menjaga tradisi, nilai, dan budaya Betawi agar tetap utuh, tidak terpisah-pisah, dan terus menjadi sumber inspirasi serta kebanggaan bagi generasi mendatang.