Sambut 100 Tahun NU, Kirab Tongkat dari Madura ke Tebuireng

Avatar photo
Replika tongkat kayu jati milik Syaikhona Kholil Bangkalan yang tersimpan di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha), Jombang. Tongkat ini menjadi simbol restu dan amanah pendirian NU. Dokumentasi berita Jatim

JAKARTA,INDONEWSIA.ID — Menyambut peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) 1926–2026, tiga dzurriyah besar NU akan menggelar kirab tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan pada 4 Januari 2026. Kirab napak tilas ini akan menempuh rute Bangkalan, Madura, menuju Pesantren Tebuireng, Jombang.

Kirab melibatkan Dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan, Dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, serta Dzurriyah Tebuireng Jombang. Rute Madura–Tebuireng dipilih karena merepresentasikan sanad keilmuan antara Syaikhona Kholil sebagai guru dan KH Hasyim Asy’ari sebagai murid, yang kemudian mendirikan NU pada 1926.

Tongkat yang dikirabkan memiliki nilai historis penting. Tongkat kayu jati tersebut diyakini sebagai pemberian Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari sekitar 1924 melalui KH As’ad Syamsul Arifin. Pemberian itu dimaknai sebagai simbol restu dan amanah pendirian NU.

Replika tongkat tersebut kini tersimpan di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha), Jombang. Dilansir dari Jatim News Kurator Minha, Ari Setiawan, sempat menjelaskan mengenai tongkat itu yang bukan sekadar artefak.

“Tongkat ini melambangkan restu, kepemimpinan, dan kesinambungan sanad keilmuan ulama Nusantara,” katanya.

Replika tongkat kayu jati itu memiliki panjang 87 sentimeter, dengan diameter 1,4 sentimeter di bagian bawah dan 2,5 sentimeter di bagian atas. Meski berupa replika, museum melengkapinya dengan keterangan sejarah pendirian NU dan relasi keilmuan para ulama.

Museum Minha saat ini menyimpan sekitar 317 koleksi benda bersejarah Islam Nusantara dari abad ke-11 hingga ke-21, termasuk kursi kayu, centong nasi, dan kitab-kitab kuno milik KH Hasyim Asy’ari. Sebagian koleksi berasal dari Perpustakaan Pesantren Tebuireng.

Koordinator Minha, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan pengelola museum juga merencanakan ruang display khusus peninggalan KH Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Pengembangan ini ditujukan untuk memperkuat literasi publik tentang sejarah dan nilai-nilai NU,” ujarnya.

Kirab tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil tersebut diharapkan menjadi refleksi satu abad perjalanan NU, dari restu seorang ulama besar di Madura hingga tumbuh sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang mengakar di Indonesia. Syaikhona Kholil sendiri belum lama ini telah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional Republik Indonesia di tahun 2025.