JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa kolaborasi dan inovasi merupakan fondasi utama bagi Jakarta untuk bertransformasi menjadi kota global. Hal itu disampaikan Pramono dalam Berita Satu Regional Forum 2025 yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2025).
“Bagi Jakarta, kolaborasi dan inovasi sudah menjadi keseharian. Kota ini tidak akan tumbuh, tidak akan menjadi lebih aman dan nyaman, tanpa kolaborasi,” ujar Pramono.
Menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka ruang kerja sama seluas-luasnya dalam berbagai sektor, mulai dari budaya, olahraga, kesenian, hingga bisnis. Pramono menekankan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci untuk menggerakkan pembangunan yang inklusif.
Transformasi Jakarta dari ibu kota negara menjadi kota global, menyusul berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, juga menuntut perubahan cara pandang pemerintah daerah. Kebijakan dan layanan publik, menurut Pramono, harus mengikuti standar global.
“Saya yakin setiap daerah punya cara untuk mengembangkan dan menginovasikan kebijakannya masing-masing,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono mengungkapkan langkah Pemprov DKI menghadapi pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp 15 triliun dari pemerintah pusat. Alih-alih memprotes, ia memilih melihat kondisi itu sebagai peluang memperkuat inovasi pembiayaan.
Ia mencontohkan pemanfaatan skema koefisien lantai bangunan (KLB) di kawasan Pullman dan Wisma Nusantara untuk menambah kapasitas fiskal daerah. “Dana inilah yang saya gunakan untuk membangun Jakarta saat ini,” ujar Pramono.
Pemprov DKI juga mengembangkan kebijakan naming right untuk meningkatkan pendapatan daerah serta mendorong digitalisasi melalui berbagai kompetisi di pusat perbelanjaan.
“Sekali lagi, kuncinya adalah inovasi dan kolaborasi,” tegas Pramono.









