BOGOR — Kabar duka menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren Terpadu Daaruttaqwa, Cibinong, Kabupaten Bogor. Pimpinan pesantren, KH Ahmad Tajuddin AS, M.Sc, wafat pada Sabtu (13/12/2025) setelah mengalami kondisi kesehatan mendadak saat menghadiri kegiatan silaturahmi di lingkungan pondok pesantren.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.35 WIB. Saat itu, almarhum tengah menyampaikan sambutan dalam acara silaturahmi bersama orang tua murid kelas III SMP. Namun, ketika berada di atas podium, KH Ahmad Tajuddin AS tiba-tiba terjatuh dan pingsan, sehingga acara langsung dihentikan.
Pengurus pondok bersama tenaga medis yang berada di lokasi segera memberikan pertolongan awal dan membawa almarhum ke rumah sakit terdekat. Namun, setelah mendapatkan perawatan intensif, nyawa almarhum tidak tertolong dan kabar wafatnya kemudian diumumkan kepada keluarga besar pesantren.
“Beliau tiba-tiba jatuh saat menyampaikan sambutan. Kami langsung menghentikan acara dan membawanya ke rumah sakit, namun Allah berkehendak lain,” ujar salah satu perwakilan Pondok Pesantren Daaruttaqwa, saat dihubungi redaksi, Sabtu (13/12/2025).
Kepergian KH Ahmad Tajuddin AS meninggalkan duka mendalam bagi para santri, wali santri, alumni, serta masyarakat luas. Almarhum dikenal sebagai ulama dan pendidik yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun dalam dunia pesantren, sejak Daaruttaqwa masih berupa kobong sederhana di kawasan Raya Bogor.
Profil Singkat KH Ahmad Tajuddin
KH Ahmad Tajuddin AS, M.Sc merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Terpadu Daaruttaqwa, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai sosok ulama pendidik yang konsisten mengembangkan pendidikan Islam yang seimbang antara iman dan takwa (IMTAQ) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Di bawah kepemimpinannya, Daaruttaqwa berkembang menjadi integrated boarding school dengan penekanan pada disiplin, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, serta pembentukan karakter dan kemandirian santri. Pesantren tersebut juga dikenal aktif membangun komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah.
Dalam kehidupan pribadi, almarhum dikenal sederhana dan bersahaja. Beliau meninggalkan seorang istri dan empat orang anak.
Pihak pesantren mengajak seluruh umat Islam untuk mendoakan almarhum, semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala dosa dan khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Keluarga yang ditinggalkan diharapkan diberikan kesabaran, ketabahan, dan kekuatan.









