JAKARTA, INDONEWSIA.ID – Jejak penjajahan di Indonesia dapat ditelusuri melalui ruang-ruang yang masih berdiri hingga hari ini. Di Jakarta, kolonialisme bukan semata catatan masa lalu, melainkan pengalaman yang pernah dijalani langsung oleh rakyatnya selama hampir berabad-abad, sebelum berakhir pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kota ini menjadi pusat kekuasaan kolonial ketika nama Batavia dilekatkan sebagai simbol kendali atas Hindia Belanda. Salah satu saksinya berdiri di kawasan Kota Tua: Museum Sejarah Jakarta yang semula disebut musium Fatahillah. Gedung berusia lebih dari tiga abad ini bukan sekadar penanda umur kota, melainkan bekas jantung kekuasaan kolonial tempat keputusan penting diambil, hukum ditegakkan, dan perlawanan dipatahkan setelah Keraton Jayakarta dihancurkan tanpa perlawanan nyata.
Bangunan ini didirikan pada 1707–1710 atas perintah Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Pada masanya, ia dikenal sebagai Stadhuis atau Balai Kota Batavia, berdiri setelah Keraton Jayakarta dihancurkan. Arsitekturnya mengikuti gaya Eropa klasik yang simetris dan kokoh, mencerminkan otoritas yang hendak ditanamkan Belanda di tanah jajahan.
Selama ratusan tahun, gedung ini menjadi pusat administrasi kota. Di dalamnya berlangsung pencatatan sipil, urusan pemerintahan, hingga persidangan Raad van Justitie, pengadilan kolonial untuk perkara pidana dan perdata. Namun di balik ruang-ruang resmi tersebut, kekuasaan kolonial juga menampilkan wajah yang gelap.
Di bagian bawah gedung terdapat sel-sel penjara yang lembap dan minim cahaya. Penjara laki-laki dan perempuan dipisahkan. Ruang-ruang sempit ini menjadi gambaran kerasnya sistem hukum kolonial. Hingga kini, penjara bawah tanah tersebut masih bisa dikunjungi, meninggalkan kesan sunyi yang kuat. Pengunjung juga masih bisa melihat rantai-rantai baja ukuran besar yang digunakan untuk mengikat kaki para tawanan.
Salah satu tokoh yang tercatat pernah ditahan sementara di penjara perempuan gedung ini adalah Cut Nyak Dhien. Setelah lama memimpin perlawanan dalam Perang Aceh, ia ditangkap dan dibawa ke Batavia. Pemindahan ini dimaksudkan untuk memutus pengaruhnya dari tanah Aceh dan menempatkannya di bawah pengawasan langsung pemerintah kolonial. Tak lama kemudian, Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang hingga akhir hayatnya.
Gedung ini juga menyimpan kisah Pangeran Diponegoro, pemimpin besar Perang Jawa (1825–1830). Setelah ditangkap di Magelang, Diponegoro dibawa ke Batavia dan ditahan di Balai Kota. Ia tidak ditempatkan di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah ruangan khusus yang kini dikenal sebagai Ruang Diponegoro. Penahanan ini mencerminkan besarnya kekhawatiran Belanda terhadap pengaruh Diponegoro di Pulau Jawa.
Dalam Sejarah Indonesia Madya Abad XVI–XIX karya A. Kardiyat Wiharyanto disebutkan, Perang Diponegoro menewaskan sekitar 15 ribu tentara Belanda dan sekutunya—terdiri atas 8 ribu orang Eropa dan 7 ribu serdadu pribumi. Biaya perang mencapai sedikitnya 20 juta gulden. Perkebunan swasta rusak, dan kemakmuran rakyat pun merosot.
Pada Ramadan 1830, Diponegoro meminta gencatan senjata yang disanggupi Jenderal De Kock. Keduanya bertemu di Magelang pada awal Maret 1830 sebelum diasingkan di bawa ke Batavia. Sumber lain ada yang menyebut jika Pangeran Diponegoro dijebak, dalam tawaran negosiasi dan menolak tunduk kepada kekuasaan kolonial. Tekanan yang kian kuat membuat Belanda memilih jalan pengasingan. Diponegoro dibawa ke Manado, lalu ke Makassar, hingga wafat di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855.
Perang Jawa sendiri bermula dari rencana penggusuran area pemakaman keluarga Mataram untuk pembangunan jalan oleh VOC. Bagi Diponegoro, yang dikenal sebagai tokoh sentral tasawuf kala itu, pembangunan benteng-benteng VOC di Jawa dibaca sebagai tanda penjajahan yang semakin terbuka.
Ya VOC, adalah perusahaan multinasional pertama di dunia, didirikan untuk mengakhiri persaingan antar-pedagang Belanda, menyingkirkan pesaing Eropa seperti Inggris dan Portugis, serta memonopoli perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara. Perusahaan ini dibekali hak istimewa untuk membentuk tentara, berperang, dan membuat perjanjian. Semangat ekspansi tersebut sejalan dengan semboyan Eropa kala itu: Gold, Glory, Gospel yang menjadi embrio penjajahan di atas dunia.
Di Batavia, VOC membangun wilayah pertahanan yang dikenal sebagai Ommelanden, membentang hingga Tangerang, Bekasi, dan Depok. Namun praktik korupsi dan nepotisme yang kronis membuat VOC bangkrut. Pemerintah Belanda kemudian mengambil alih, menandai lahirnya pemerintahan Hindia Belanda dengan gubernur jenderal sebagai pemimpin tertinggi.
Dari sini terlihat bahwa VOC hanyalah pintu masuk bagi kekuasaan kolonial Belanda. Melalui kamuflase dagang dan intrik ekonomi, kekuasaan itu ditanamkan secara sistematis. Apa yang terjadi di Batavia, kini Jakarta menjadi bagian penting dari sejarah penjajahan di Indonesia.
Setelah masa kolonial berakhir, gedung Balai Kota ini sempat digunakan untuk berbagai keperluan pemerintahan hingga gedung Kodim Jakarta Barat. Hingga pada 30 Maret 1974, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikannya sebagai Museum Sejarah Jakarta.
Dan bangunan bekas pusat kekuasaan kolonial tersebut menjadi ruang edukasi publik. Museum ini menyimpan koleksi sejarah Jakarta sejak masa prasejarah, era Sunda Kelapa, Batavia, hingga awal kemerdekaan, termasuk peta-peta asli dan rancangan kota.
Penataan ruang tematik, panel informasi, dan ruang imersif membuat museum tampil lebih modern. Namun esensinya tetap sama. Penjara bawah tanah, Ruang Diponegoro, dan bekas balai kota menjadi pengingat bahwa Jakarta bukan sekadar kota metropolitan, melainkan medan sejarah tempat rakyat pernah berhadapan langsung dengan penjajahan dalam kesehariannya.
Museum Sejarah Jakarta berdiri sebagai saksi, kolonialisme bukan hanya catatan dalam buku, melainkan jejak yang masih terasa di ruang, dinding, dan sunyi yang tertinggal hingga hari ini.









