Masjid Pangeran Kuningan,Tonggak Sejarah Islam di Jakarta

Avatar photo

JAKARTA, INDONEWSIA.ID – Dilansir dari laman resmi Masjid Tua Al Mubarok, sejarah kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, tidak dapat dilepaskan dari peran seorang tokoh penting dalam proses Islamisasi Jawa bagian barat dan lahirnya Jayakarta, yakni Pangeran Kuningan.

Di Jakarta Selatan berdiri Masjid Tua Al Mubarok yang hingga kini menjadi penanda hidup dari perjalanan panjang sejarah tersebut. Menurut penelitian sejarah Cirebon, Pangeran Kuningan diperkirakan lahir pada 1449 M di Desa Cangkuang.

Ia dikenal sebagai kerabat dekat Gusti Sinuhun Sunan Gunung Jati dan disebut memiliki usia panjang, mencapai sekitar 130 tahun. Pangeran Kuningan wafat pada 1579 M di bumi Jayakarta dan dimakamkan di kawasan yang kini dikenal sebagai daerah keramat Kuningan, tepatnya di Desa Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Dari sinilah asal-usul penamaan wilayah Kuningan di Jakarta Selatan bermula.

Bermula di tahun 1481 M, Pangeran Kuningan yang saat itu bergelar Dalem Babakan Cianjur datang ke Cirebon untuk memeluk agama Islam dan berguru langsung kepada Sunan Gunung Jati. Setelah menetap di Cirebon, ia dilantik menjadi Dipati Cangkuang dan memperoleh gelar Adipati Awangga.

Sunan Gunung Jati juga memberikan kewenangan kepadanya sebagai Lurah Gung di wilayah Kuningan, Jawa Barat. Pada masa itu, jabatan adipati setara dengan kepala daerah sekaligus merangkap sebagai panglima perang.

Pada 1482 M, lahir seorang putra mahkota Kerajaan Cirebon yang diberi nama Pangeran Kuningan, hasil perkawinan Sunan Gunung Jati dengan Ong Tien Nio yang bergelar Ratu Rarasumanding, yang dalam sejumlah sumber disebut berdarah Tiongkok. Karena saat itu sang putra mahkota masih belum dewasa, Adipati Awangga atau Dipati Cangkuang kemudian dinobatkan sebagai Pangeran Kuningan dan bertindak sebagai wali putra mahkota.

Dalam periode yang sama, permaisuri Ki Gedeng Kemuning juga melahirkan seorang putra bernama Pangeran Arya Kemuning, yang kelak menjadi adipati di wilayah Kuningan Cirebon bersama Adipati Cangkuang dan juga bergelar Adipati Awangga.

Sedangkan Putra mahkota dari Ratu Rarasumanding kemudian wafat pada usia muda. Atas peristiwa itu, Sunan Gunung Jati menetapkan Pangeran Kuningan sebagai wali sekaligus penguasa, dengan jabatan rangkap sebagai Dipati Cangkuang dan panglima perang.

Peran militer Pangeran Kuningan semakin menonjol ketika pada sekitar 1526 M, Sunan Gunung Jati bersama Sultan Trenggono, Sultan Demak III, mengirim ekspedisi militer gabungan Demak–Cirebon dengan kekuatan sekitar 1.918 pasukan menuju Kawunganten, Banten. Ekspedisi ini bertujuan menuntaskan pembentukan Kesultanan Islam Banten.

Pada tahun yang sama, putra Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai Sebakingkin diangkat menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Hasanudin.

Pimpinan utama ekspedisi militer gabungan Demak–Cirebon adalah Fatahillah atau Fadhillah Khan, bangsawan asal Aceh yang menempuh pendidikan di Mekah. Fatahillah merupakan menantu Sunan Gunung Jati melalui pernikahannya dengan Ratu Wulung Ayu, sekaligus menantu Sultan Trenggono karena menikahi putri sang sultan.

Dalam ekspedisi tersebut, Fatahillah didampingi sejumlah tokoh penting, di antaranya Dipati Keeling, Pangeran Cakrabuana, serta Pangeran Kuningan atau Dipati Awangga/Dipati Cangkuang sebagai salah satu pimpinan kontingen perang. Setelah penataan pemerintahan Islam di Banten selesai, pasukan gabungan bergerak menuju Sunda Kelapa untuk mengislamkan penduduk setempat sekaligus mengusir Portugis yang mulai menanamkan pengaruh kolonial.

Ekspedisi ini mencapai puncak keberhasilan pada 22 Juni 1527. Sunda Kelapa berhasil ditaklukkan, yang dimaknai sebagai kemenangan yang sempurna. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sebagai adipati pertama Jayakarta, Sunan Gunung Jati mengangkat Fatahillah. Namun karena Fatahillah kerap mendapat penugasan di wilayah lain, Pangeran Kuningan kemudian diangkat sebagai adipati di bumi Jayakarta dan menetap di wilayah tersebut. Ia tetap merangkap jabatan sebagai Adipati Awangga dan Adipati Cangkuang, mengingat kekuasaannya bersifat tumpang tindih.

Sekitar tahun 1579 M, Pangeran Kuningan wafat dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Tua Al Mubarok. Lokasi ini tercatat sebagai bekas tanah eigendom verponding nomor 6242 dan 8012, terletak di Desa Kuningan Barat, di tepi Sungai Krukut. Pada masa lalu, sungai ini menjadi jalur transportasi air menuju Sunda Kelapa dan Muara Karang.

Sebagai bentuk penghormatan, kawasan permukiman keturunan dan pengikutnya kemudian dikenal dengan nama Kampoeng Koeningan Jakarta.

Nama Pangeran Kuningan juga diabadikan melalui pendirian Yayasan Pangeran Kuningan yang bertujuan melestarikan dan mengembangkan ajaran Islam di kalangan keturunannya.

Selain itu, nama Kuningan digunakan sebagai nama jalan protokol yang membentang dari Gatot Subroto, Kuningan Barat, hingga Warung Buncit dan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Penaklukan Sunda Kelapa dan Lahirnya Jayakarta

Usai penataan pemerintahan di Sunda Kelapa, armada perang Portugis yang dipimpin Francisco de Da Costa berlabuh di wilayah tersebut. Kedatangan ini merupakan realisasi perjanjian antara Hendricus Lema dan Kerajaan Pajajaran, yang naskah aslinya tersimpan di Museum Purbakala Lisbon, Portugal. Kehadiran Portugis menandai fase awal upaya kolonialisme di Nusantara.

Pasukan Demak–Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah dan Pangeran Kuningan segera mengambil sikap tegas.

Pertempuran besar terjadi pada penghujung 1523 M. Dengan persenjataan sederhana seperti blandringan dari batu bata dan bambu runcing (awi), pasukan gabungan berhasil memukul mundur Portugis hingga mereka meninggalkan Sunda Kelapa dan kembali ke basis mereka di Pasai.

Kemenangan ini disebut Fathan Mubina atau kemenangan yang nyata. Karena membuka jalan bagi Islamisasi Sunda Kelapa dan pengukuhan Jayakarta pada 22 Juni 1527.

Sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal Pangeran Kuningan beserta para pengikutnya, didirikan sebuah bangunan sederhana berupa gubuk tua yang difungsikan sebagai masjid.

Bangunan inilah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Tua Al Mubarok. Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri di belakang Gedung Sena Katha, Kantor Pusat Museum Sejarah ABRI dan Tradisi ABRI, Jakarta.

Dalam rangka menjaga dan melestarikan sejarah Pangeran Kuningan, pada 18 Agustus 1972 didirikan Yayasan Pangeran Kuningan oleh Haji Ahmad Wardie Asnawie, Ustadz Rahmatullah Fauzey, Kiai Haji Abdussalam Husin, dan Mohammad Soleh Abdi. Yayasan ini didirikan melalui Akta Notaris Haji Zawir Simon, SH, Nomor 66.

Yayasan Pangeran Kuningan bergerak di bidang pendidikan agama Islam, sosial, dan budaya. Selain itu, yayasan ini juga mengupayakan pembangunan Monumen Pangeran Kuningan di lokasi makam serta pemugaran Masjid Tua Al Mubarok agar tetap lestari di tengah pesatnya perkembangan kawasan metropolitan Jakarta.