JAKARTA – Berdasarkan kajian yang ditulis Nirma Yossa dan Inayah Hidayati dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dilansir dari The Conversation, rencana penyesuaian tarif TransJakarta mulai dikaji kembali oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setelah hampir dua dekade tidak berubah, tarif Rp3.500 dinilai tidak lagi menutup biaya operasional yang meningkat. Peneliti menekankan bahwa langkah ini perlu dihitung secara hati-hati agar tidak membatasi akses masyarakat terhadap transportasi publik yang selama ini menjadi andalan warga ibu kota.
Dalam laporannya, kedua peneliti menyoroti dampaknya terhadap penumpang. Berdasarkan simulasi Institute for Essential Services Reform (IESR), jumlah pengguna TransJakarta berpotensi turun 6,9–7,5 persen jika tarif dinaikkan menjadi Rp9.515. Jika tarif riil tanpa subsidi diterapkan, penurunan bisa mencapai 10–11 persen. Peneliti menilai angka tersebut menunjukkan tingginya sensitivitas warga terhadap perubahan harga di tengah kebutuhan mobilitas yang terus meningkat.
Menanggapi hal itu, Nirma dan Inayah menekankan bahwa peningkatan efisiensi layanan harus dilakukan sebelum kebijakan tarif diputuskan. PT Transportasi Jakarta dinilai perlu memperkuat konsistensi jalur khusus, menjaga ketepatan waktu perjalanan, serta meningkatkan kenyamanan armada. Langkah perbaikan ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan masyarakat agar penyesuaian tarif tidak menurunkan minat warga menggunakan transportasi umum dan tetap mendukung kelancaran mobilitas di Jakarta.









