INDONEWSIA.ID — Sebuah kajian strategis terbaru mengungkap kondisi Gunung Ciremai berada di titik kritis. Dalam laporan yang disusun Founder Swara Pemoeda, Muhammad Hanif Firdaus, kerusakan di Ciremai disebut bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi krisis tata kelola yang melibatkan kepentingan ekonomi dan politik. “Yang terjadi bukan semata masalah teknis. Ini krisis moral publik,” ujar Hanif, dilansir laman ceremai, Kamis, 10 Desember 2025.
Dalam kajian itu, benteng ekologis Gunung Ciremai dipetakan mengalami tekanan akut akibat pembukaan lahan liar di lereng-lereng curam. Indikasi penggundulan vegetasi, pembuatan akses jalan ilegal, hingga perataan kontur tanah disebut berlangsung secara sistematis. Sekitar 140 hektare hutan hilang dalam tiga tahun terakhir, memicu pelepasan 94 kiloton emisi karbon dan melemahkan sistem hidrologis wilayah Ciayumajakuning.
Kajian juga menyoroti keterlibatan pemodal lokal hingga perusahaan yang diduga menggunakan kedok pengembangan wisata dan pembangunan fasilitas untuk menyeret kawasan konservasi Gunung Ciremai ke zona abu-abu hukum. Pola lama kembali muncul: lahan dibuka lebih dulu, izin diurus belakangan, narasi kesejahteraan menjadi legitimasi. “Kita sedang mengulang kesalahan yang sama,” kata Hanif.
Dengan kontur lereng yang curam dan curah hujan tinggi, kawasan Ciremai disebut berada di ambang risiko banjir bandang dan longsor besar. Hanif mengingatkan agar Jawa Barat belajar dari bencana Sumatra yang terjadi akibat penggundulan hutan di daerah hulu. “Jika hulu jebol, hilir pasti menanggungnya.” tegasnya.
Hanif menolak normalisasi pejabat dan investor yang mempromosikan pembukaan lahan atas nama pembangunan. Ia mendesak penegak hukum mengambil langkah tegas terhadap mereka yang disebutnya “mengelupas kulit Ciremai sedikit demi sedikit”. “Tangkap pelakunya, siapa pun mereka,” katanya.
Dalam kearifan Sunda, inti gunung, hulu mata air, dan lereng terjal termasuk Hutan Larangan wilayah yang tak boleh digarap. Hanif mengutip falsafah leluhur yang kini terdengar seperti peringatan.
“Lamun leuweung rusak, cai éléh. Lamun cai eleh, hirup eleh.” demikian bunyi siloka itu.
Kajian ditutup dengan pertanyaan yang tajam “Jika bisa menjaga, mengapa dipilih untuk merusak?”
Hanif mendesak penghentian total semua aktivitas pembukaan lahan dan audit lingkungan independen. “Ciremai bukan proyek. Ciremai adalah amanah.” tutupnya.









