Jakarta – Dalam suasana perdebatan yang kian memanas tentang sengketa royalti lagu, Wakil Menteri Kebudayaan sekaligus mantan vokalis Nidji, Giring Ganesha, mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Giring mengajak seluruh pihak terkait untuk “duduk bareng” sesudah Lebaran sebagai langkah awal meredam konflik dan menemukan solusi bersama.
Pernyataan itu diajukan sebagai respons terhadap keributan internal di dunia musik yang melibatkan pencipta lagu dan penyanyi. Giring menekankan, melalui pendekatan musyawarah dan kebersamaan, para pelaku industri hendaknya melupakan perseteruan dan bersinergi demi kebaikan bersama.
Dalam pernyataannya, Giring menyebutkan bahwa banyak perhimpunan musisi, seperti AKSI, VISI, dan FESMI, mulai kurang bersuara belakangan ini. “Nanti habis Lebaran, kita mau bikin halal bihalal. Yuk, kita kumpulkan semuanya. Kita duduk bareng sebagai bangsa yang hebat. Saya ini juga seniman, dan saya ingin saudara-saudara saya akur, guyub, dan berjuang bareng-bareng agar semuanya jadi lebih baik,” ungkap Giring dengan semangat persatuan.
Ia juga mengkritisi kurang optimalnya transparansi dari Lembaga Manajemen Kekayaan Negara (LMKN), yang dinilai menjadi salah satu akar persoalan sengketa royalti. Menurutnya, jika transparansi tersebut diperkuat, konflik yang terjadi bisa dihindari.
Giring mengusulkan agar pasca Lebaran diadakan pertemuan besar yang melibatkan para pencipta lagu, penyanyi, dan pemangku kepentingan industri musik. Tujuannya adalah untuk langsung mendiskusikan berbagai kendala dan mencari titik temu yang konstruktif, sehingga hak cipta dan royalti lagu dapat dikelola secara adil.
Pernyataan Giring datang di tengah sorotan publik setelah salah satu kasus gugatan royalti melibatkan penyanyi ternama, yang mengakibatkan denda miliaran rupiah. Meski begitu, Giring tetap optimis bahwa dengan semangat kekeluargaan dan keterbukaan, semua konflik dapat diselesaikan dengan baik.
Langkah inisiatif ‘duduk bareng’ tersebut diharapkan tidak hanya meredakan ketegangan di kalangan musisi, tetapi juga memberikan sinyal positif bagi industri hiburan Indonesia untuk mengedepankan etika dan profesionalisme.
Masyarakat dan pelaku industri musik kini menantikan momentum pasca Lebaran sebagai titik balik persatuan dan solusi inovatif untuk menyelesaikan masalah royalti yang selama ini mengganggu dinamika dunia musik.
