JAKARTA,INDONEWSIA.ID — Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) baru-baru ini merilis gambaran terkini tren belanja digital nasional yang menunjukkan peningkatan signifikan, berbanding terbalik dengan kondisi pedagang ritel tradisional di Tanah Abang yang kian tertekan.
Wakil Ketua Umum idEA, Budi Primawan, menyampaikan bahwa survei independen yang kerap dirujuk idEA mencatat 95% responden melakukan pembelian online pada paruh pertama 2025, meningkat sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, volume transaksi e-commerce nasional tumbuh 16,9% secara tahunan (year on year) hingga pertengahan 2025, dengan total mencapai 466,9 juta transaksi. Nilai belanja online juga tercatat naik sekitar 6% secara bulanan pada periode tertentu.
Meski demikian, Budi menegaskan idEA tidak memiliki data kuantitatif resmi terkait persentase pergeseran belanja dari ritel fisik ke online, lantaran data transaksi berada di masing-masing platform marketplace dan bersifat internal.
“Walaupun idEA tidak memiliki angka resmi sendiri, indikator survei dan statistik pasar menunjukkan tren pergeseran belanja ke online terus meningkat, baik dari jumlah konsumen maupun volume transaksi,” ujar Budi dilansir dari Bloomberg, Rabu, (24/12/2025).
Tren tersebut semakin terlihat pada momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12. Shopee dan Lazada mencatat lonjakan transaksi signifikan, khususnya untuk produk lokal dan kebutuhan rumah tangga.
Senior Director of Business Development Shopee Indonesia Adi Rahardja menyebutkan minat pengguna terhadap produk lokal meningkat tajam. Selama kampanye 12.12, penjualan makanan ringan lokal melonjak hingga empat kali lipat, sementara dekorasi rumah naik tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
Sementara itu, Lazada melaporkan penjualan di kanal LazMall meningkat hingga 600%, dengan lonjakan terbesar berasal dari kategori kebutuhan rumah tangga (710%), fesyen (610%), perlengkapan rumah dan hobi (540%), serta elektronik (230%).
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan pedagang di Pasar Tanah Abang. Nia (58), pedagang tunik di Blok B, mengaku omzetnya sepanjang 2025 merosot tajam, terutama sejak usai Lebaran.
“Dari habis Lebaran sampai sekarang omzet turun sampai 80%. Tahun lalu masih lumayan,” ujar Nia.
Ia menyebut, pendapatan harian yang sebelumnya bisa mencapai Rp5 juta–Rp10 juta, kini hanya berkisar di bawah Rp1 juta, bahkan kerap tak sampai Rp500 ribu. Jumlah pelanggan pun terus menyusut dan kini didominasi wilayah Jabodetabek.
Kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi ritel konvensional di tengah pesatnya pertumbuhan belanja online di Indonesia









