Jakarta — Beberapa bencana besar yang melanda Aceh dan wilayah Sumatera dalam beberapa tahun terakhir kembali memunculkan pertanyaan penting: Apakah bencana itu semata-mata akibat fenomena alam, atau ada faktor lain yang turut memperparah dampaknya? Pengamat dari berbagai latar bidang memberikan pandangan yang lebih luas ketimbang sekadar atribusi pada cuaca atau geologi.
Alam sebagai Pemicu Utama
Aceh dan Pulau Sumatera berada di kawasan yang secara geologis dan klimatologis sangat rentan terhadap bencana alam. Wilayah ini terletak di sepanjang Pacific Ring of Fire dan dekat dengan zona subduksi lempeng besar dunia, yang memicu gempa bumi, tsunami, serta aktivitas vulkanik. Tsunami besar yang menghancurkan Banda Aceh pada 26 Desember 2004 merupakan akibat gempa megathrust di Lautan Hindia, yang disebut sebagai salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah modern.
Selain itu, fenomena cuaca ekstrem seperti yang dialami Aceh pada akhir November 2025 — termasuk curah hujan sangat tinggi akibat siklon tropis — memicu banjir besar dan tanah longsor di Aceh serta beberapa provinsi di Sumatera, terutama ketika permukaan tanah sudah jenuh air.
Faktor Lingkungan dan Aktivitas Manusia
Meskipun kondisi alam berperan besar, banyak pengamat menekankan bahwa faktor antropogenik (manusia) turut memperburuk dampak bencana. Menurut pernyataan dari organisasi lingkungan dan para peneliti, deforestasi dan perubahan tata guna lahan telah mengurangi kemampuan alam menyerap curah hujan ekstrem, sehingga memicu banjir dan longsor yang lebih parah. Greenpeace dan pihak pemerintah menyatakan bahwa penggundulan hutan dalam beberapa dekade terakhir telah mengurangi daya serap wilayah pedalaman Sumatera.
CEO WWF Indonesia Aditya Bayunanda juga mengatakan bahwa masalah besar yang mendasari bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya curah hujan atau fenomena sesaat, tetapi rekam jejak kebijakan tata kelola lingkungan yang panjang, terutama izin penggunaan lahan yang kurang memperhatikan mitigasi risiko bencana.
Pendapat Para Pengamat
Beberapa pengamat dan analis menyoroti pentingnya melihat bencana secara holistik. Uchok Sky Khadafi dari Center For Budget Analysis, misalnya, menegaskan bahwa untuk menangani banjir dan tanah longsor dengan efektif, pemerintah perlu menganalisis akar penyebab yang kompleks, bukan hanya faktor cuaca. Menurutnya, tanpa diagnosis yang tepat, kebijakan pencegahan akan kurang efektif.
Sementara itu, opini opini narasumber lain di masyarakat umum mengaitkan bencana dengan praktik buruk tata kelola sumber daya alam, seperti aktivitas sawit, tambang, atau pemanenan pohon yang tidak berkelanjutan. Meski beberapa tokoh penentang—seperti figur dari komunitas tertentu—menolak pandangan yang mengaitkan tambang atau eksploitasi lahan secara langsung sebagai penyebab tunggal, perdebatan ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara kegiatan ekonomi dan kerentanan bencana.
Peran Kebijakan dan Tanggap Darurat
Respons pemerintah juga menjadi bagian dari diskusi publik. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah telah mengerahkan semua kekuatan untuk menangani dampak bencana di tiga provinsi terdampak, sekaligus menolak klaim bahwa situasi tidak terkendali. Pernyataan ini mencerminkan fokus pemerintah saat ini pada penanganan darurat dan rehabilitasi, sekaligus membuka ruang evaluasi kebijakan masa depan.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI juga mengimbau agar semua pihak tidak saling menyalahkan, melainkan bekerja bersama untuk meningkatkan langkah preventif dan mitigasi agar bencana serupa tidak terus berulang.
Kesimpulan: Alam dan Faktor Lain Tidak Terpisahkan
Mayoritas pengamat sepakat bahwa bencana di Aceh dan Sumatera tidak bisa dilihat semata dari satu sudut pandang. Faktor alam seperti gempa bumi, curah hujan ekstrem, dan fenomena geologis jelas merupakan pemicu utama. Namun, perubahan lingkungan yang dipicu aktivitas manusia, tata guna lahan, serta kelemahan dalam mitigasi risiko bencana memperburuk tingkat kerusakan dan korban. Pendekatan pencegahan ke depan disarankan melibatkan kolaborasi antara ilmuwan, pembuat kebijakan, masyarakat lokal, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menekan dampak bencana secara menyeluruh.
Ulasan AI
Artikel ini memaparkan penyebab bencana di Aceh dan Sumatera dari perspektif alam dan antropogenik berdasarkan analisis berbagai pengamat dan laporan studi lingkungan. Pendekatan yang digunakan adalah netral, informatif, dan mengakui kompleksitas hubungan antara fenomena alam dan faktor manusia dalam kejadian bencana.









