JAKARTA — Glodok seperti menolak padam. Di tengah geliat kawasan pecinan modern di Pantai Indah Kapuk (PIK) yang tumbuh dengan wajah baru di luar wilayah Provinsi DKI Jakarta, Glodok justru tetap hidup dengan caranya sendiri.
Lorong-lorong sempit di Glodok masih dipenuhi langkah pengunjung. Suara tawar-menawar bersahut-sahutan, aroma pasar bercampur wangi kuliner khas yang tak pernah absen, terutama menjelang Imlek. Kawasan ini tetap menjadi magnet, bukan karena kemasan baru, melainkan karena ingatan kolektif yang terus dijaga.
Salah satu denyut terkuat Glodok datang dari lapak tripang hidup yang nyaris tak pernah sepi pembeli. Tripang segar dalam ember-ember besar masih menjadi buruan, meski harganya bisa menembus angka fantastis hingga Rp1 juta per kilogram. Keberadaan pedagang ini kembali terekspos lewat unggahan konten kreator kuliner jajanbeken, yang memvisualisasikan langsung aktivitas jual beli tripang hidup di kawasan tersebut. Video itu menarik perhatian warganet sekaligus menegaskan bahwa tradisi kuliner tua ini masih relevan dan dicari.
Tak hanya tripang, Glodok juga mempertahankan jajanan-jajanan lama yang kini kembali digemari. Cempedak goreng, gemblong berbahan ketan, hingga es kue jadul atau es spon yang sempat viral di media sosial belum lama ini, masih mudah ditemukan.
Pemburunya datang dari lintas generasi mereka yang bernostalgia dan mereka yang penasaran. Termasuk keberadaan lapak daging B2 yang masih bertahan, aneka buah delima yang sulit ditemui hingga kecapi dan Jamblang menjadikan Glodok destinasi khusus bagi pembeli dari berbagai wilayah.
Menjelang Imlek, Petak 9 kembali menjadi pusat perhatian. Petasan dan kembang api masih diburu dari kawasan ini, Aneka hio atau dupa tersedia dalam berbagai aroma, ukuran, dan jenis (stik, kerucut, bubuk/buhur) untuk sembahyang, meditasi, atau aromaterapi. Varian populer meliputi beragam aroma dari Cendana hingga nag champa memperlihatkan bahwa Glodok bukan sekadar tempat belanja, melainkan ruang ritual tahunan bagi banyak keluarga.
Di sisi lain, Petak Enam menghadirkan wajah yang lebih cair melalui bazar dan hiburan malam live music dan DJ menyatukan mami, papi, oma, hingga opa dalam satu irama. Bisa dikunjungi Selasa malam dan malam Minggu.
Identitas budaya Glodok juga kian kuat lewat simbol visualnya. Ondel-ondel berbusana China kini menjadi ikon khas Kelurahan Glodok, merepresentasikan akulturasi Betawi dan Tionghoa yang telah berlangsung puluhan tahun. Balutan warna merah dan ornamen naga menjadi penanda bahwa kawasan ini terus menemukan bentuk barunya.
Di tengah kilau kawasan baru seperti PIK, Glodok memilih untuk tetap menyala lewat tradisi, rasa, dan cerita. Selama masih ada orang yang datang mencari tripang hidup, jajanan pasar, dan suasana yang tak dibuat-buat, Glodok akan terus hidup menjadi bagian dari denyut budaya yang nyata hari ini, dalam bingkai Jakarta sebagai kota global.









