JAKARTA – Perubahan nama sebuah tempat sering kali dianggap sekadar urusan administratif. Namun bagi masyarakat Cilangkap, Jakarta Timur, pergantian nama Waduk Giri Kencana menjadi Waduk Batu Licin Cilangkap menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia menyentuh soal identitas, sejarah, serta cara masyarakat memandang dan merawat alam yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan kampung.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi menerima aspirasi warga Cilangkap untuk mengembalikan nama Batu Licin sebagai nama waduk.

Keputusan ini diambil setelah mendengarkan penuturan sejarah dan latar belakang budaya yang disampaikan para sesepuh dan tokoh masyarakat setempat. Pergantian nama tersebut dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap sejarah lokal dan ingatan kolektif warga yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kawasan tersebut.
Nama Batu Licin merujuk pada sebuah batu besar yang dahulu berada di pertemuan tiga aliran sungai, yakni Kali Cilangkap, Kali Gondang, dan Kali Wangsaan. Pada masanya, kawasan ini menjadi pusat aktivitas warga tempat mencuci, mandi, hingga beristirahat setelah bekerja di sawah. Batu tersebut dikenal memiliki permukaan datar dan licin, sekaligus menjadi penanda ruang sosial yang diperlakukan secara khusus.
Menurut penuturan para sesepuh kampung, Batu Licin bukan sekadar batu alam.
Dalam cerita lisan yang berkembang, bahkan hewan ternak disebut enggan menginjak batu tersebut. Hal itu memperkuat keyakinan masyarakat bahwa kawasan ini memiliki nilai simbolik yang menuntut sikap hormat dan kehati-hatian.
Dalam tradisi setempat, nama Cilangkap dipercaya berasal dari istilah “buang celaka”. Kawasan ini diyakini pada masa lampau menjadi tempat pembuangan ilmu hitam dan kesaktian. Kepercayaan tersebut membentuk pandangan hidup masyarakat agar setiap orang yang datang menjaga sikap, ucapan, dan perbuatannya. Wilayah ini pun dikenal sebagai kawasan yang dijauhi oleh pelaku perbuatan maksiat dan tindakan tercela lainnya.
Sejumlah kisah turun-temurun juga mengaitkan Batu Licin dengan jejak sejarah kerajaan kuno. Batu tersebut digambarkan berbentuk cekung menyerupai kuali dan dipercaya pernah berfungsi sebagai meja perjamuan atau tempat duduk raja. Beberapa warga bahkan menuturkan pernah ditemukan struktur berundak menyerupai tangga di bawah batu, meski upaya penggalian tidak pernah dilanjutkan karena berbagai kendala teknis.
Selain itu, air di sekitar Batu Licin dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Cerita tentang hewan ternak yang kembali sehat setelah meminum air dari kawasan tersebut masih hidup dalam ingatan warga, meski tidak pernah dibuktikan secara ilmiah. Ada pula kepercayaan bahwa aliran sungai di lokasi itu kerap digunakan sebagai media ritual pembuangan susuk maupun ilmu hitam, dengan cara mandi di sungai menghadap arus air. Secara simbolik, aliran sungai dipercaya membawa pergi penyakit, sihir, dan energi buruk bersama derasnya air.
Seiring perubahan tata ruang dan pembangunan kota, aliran sungai di kawasan tersebut dialihkan untuk kebutuhan irigasi dan pengendalian air. Sungai lama mengering dan ditimbun, sementara Batu Licin perlahan menghilang tertutup tanah dan pembangunan. Kawasan itu kemudian dikembangkan menjadi waduk dan diberi nama Waduk Giri Kencana.
Namun bagi masyarakat Cilangkap, nama tersebut dinilai kurang mencerminkan sejarah dan identitas lokal. Aspirasi untuk mengembalikan nama Batu Licin muncul dari para sesepuh kampung dan tokoh masyarakat, lalu disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta melalui KH Lukman Hakim Hamid, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap.
“Nama Batu Licin adalah bagian dari sejarah kampung ini. Menghidupkan kembali nama tersebut berarti menjaga ingatan kolektif masyarakat, bukan soal kepercayaan semata,” ujar KH Lukman Hakim Hamid saat berbincang-bincang dengan penulis.
Ia menambahkan, berdirinya Waduk Batu Licin Cilangkap diharapkan menjadi titik temu sinergi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kawasan tersebut. Terutama mengingat fungsi waduk yang sangat vital sebagai benteng pertahanan kampung saat cuaca ekstrem dan intensitas hujan tinggi.
“Dengan berdirinya Waduk Batu Licin Cilangkap, kami berharap kerja sama antara pemerintah dan warga bisa terus terjaga. Waduk ini harus dirawat bersama, salah satunya dengan memastikan kawasan ini bersih dari sampah,” kata KH Lukman.
Menurutnya, kesadaran untuk menjaga lingkungan dapat diperkuat dengan menghidupkan kembali ingatan sejarah kawasan Batu Licin itu sendiri.
“Dulu kawasan ini ditakuti oleh banyak penganut ilmu hitam dan pelaku perbuatan maksiat. Ada rasa segan untuk berbuat sembarangan. Nilai itu ingin kita hidupkan kembali dalam makna yang lebih etis supaya orang takut merusak, takut membuang sampah sembarangan, dan merasa berkewajiban menjaga lingkungan,” ujarnya.
Usulan perubahan nama tersebut mendapat respons positif dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo. Setelah mendengarkan penuturan sejarah dan latar belakang budaya yang disampaikan para tokoh masyarakat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan menerima aspirasi tersebut dan secara resmi menetapkan nama Waduk Batu Licin Cilangkap.
Adapun sejumlah sesepuh yang menjadi narasumber dalam penelusuran sejarah Batu Licin antara lain Bapak Komboy (78), Bapak Samin (70), Bapak Nasir (70), Bapak Ampu (70), Bapak Nasan (70), Bapak Toncit (60), serta Ibu Simah (68). Mereka menuturkan bahwa Batu Licin selama puluhan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual warga Cilangkap.
Kini, Waduk Batu Licin Cilangkap tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian air, tetapi juga sebagai penanda bahwa pembangunan kota tetap memberi ruang bagi sejarah dan kearifan lokal.
Di balik nama tersebut, tersimpan kisah tentang hubungan manusia dengan alam, ingatan kampung yang diwariskan lintas generasi, serta upaya menjaga lingkungan agar tetap lestari di tengah perubahan kota yang kian cepat.
Kemal Maulana









