Jakarta – Pengamat kebijakan publik Sugiyanto menilai klaim Pusat Koperasi Pedagang Pasar (Puskoppas) yang menyebut 40 persen atau sekitar 60 dari 153 pasar tradisional di Jakarta dalam kondisi kumuh adalah keliru. Menurutnya, istilah “kumuh” tidak tepat digunakan jika hanya merujuk pada pasar dengan kerusakan atau kekurangan fasilitas.
“Kalau mengacu pada definisi dalam KBBI, kumuh berarti kotor, cemar, tidak sehat, bahkan tidak layak huni. Tidak logis kalau disebut ada 60 pasar tradisional di Jakarta yang benar-benar masuk kategori kumuh,” tegas Sugiyanto, Jumat (19/9/2025).
Ia menjelaskan, data resmi Perumda Pasar Jaya tahun 2025 menunjukkan hanya 34 pasar (22 persen) yang masuk kategori rusak. Sementara 30 pasar berada dalam kondisi cukup baik, 80 pasar baik, dan 9 pasar sedang dibangun. Angka ini bahkan menunjukkan tren membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya, di mana pada 2022 tercatat 55 pasar rusak, 2023 sebanyak 44 pasar, dan 2024 tetap 34 pasar.
Sugiyanto menilai revitalisasi pasar tradisional di Jakarta berjalan signifikan. Pasar Jaya, kata dia, telah melakukan pengecatan ulang di 67 pasar, pembangunan ulang 9 pasar melalui anggaran PMD, serta rencana revitalisasi 3 pasar bersama pihak ketiga. Sejumlah perbaikan teknis juga terus dilakukan, mulai dari waterproofing, perbaikan saluran air, pengaspalan, hingga perbaikan panel listrik.
“Bahkan fasilitas olahraga juga dibangun di atas pasar, seperti lapangan futsal dan bulutangkis. Belum lagi modernisasi lewat sistem penagihan dan pembayaran digital yang sudah diterapkan di puluhan pasar,” ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan keberhasilan program revitalisasi juga bergantung pada kepatuhan pedagang dalam membayar Biaya Pengelolaan Pasar (BPP). “Piutang BPP terus meningkat hingga Rp217,19 miliar per April 2025. Padahal dana ini sangat penting untuk operasional pasar,” ujarnya.
Meski begitu, Sugiyanto mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo yang dinilainya cerdas dan elegan dalam menyikapi persoalan ini. “Pak Pramono tidak menyalahkan pedagang maupun BUMD Pasar Jaya. Beliau menegaskan komitmen untuk terus melakukan revitalisasi pasar tradisional demi kebaikan bersama,” kata Sugiyanto.
Menurutnya, kepedulian Gubernur terhadap pedagang sekaligus komitmen revitalisasi pasar patut diapresiasi. “Sikap bijak ini menunjukkan kualitas kepemimpinan yang matang dan berpihak pada masyarakat,” tandas Sugiyanto.









