Jakarta — Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Kamis pagi pukul 06.25 WIB, sebanyak 780 orang meninggal dunia, sementara 564 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, sekitar 2.600 warga dilaporkan mengalami luka-luka.
Dampak bencana juga menyebabkan kerusakan luas di berbagai daerah terdampak. Sedikitnya 2.400 rumah rusak, disertai kerusakan pada fasilitas umum seperti sekolah, jembatan, rumah ibadah, serta akses jalan utama yang tertutup material longsor. Kondisi ini menghambat proses evakuasi serta distribusi bantuan logistik ke lokasi bencana.
Untuk mendukung upaya penanganan di lapangan, BNPB melanjutkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Aceh dan Sumatra Utara. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi hujan tambahan yang dapat memperparah kondisi di daerah terdampak.
“Operasi Modifikasi Cuaca sangat penting untuk mendukung kelancaran proses evakuasi dan penyaluran bantuan, serta menjaga keselamatan petugas di lapangan,” ujar Abdul Muhari.
Berdasarkan data teranyar per wilayah, Aceh mencatat 277 korban meninggal dunia dan 193 orang dinyatakan hilang. Di Sumatra Barat, jumlah korban meninggal mencapai 204 orang dengan 212 orang masih dalam pencarian. Sementara itu, di Sumatra Utara tercatat 299 korban meninggal dunia dan 159 orang dilaporkan hilang.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan terus melakukan proses pencarian dan evakuasi meskipun terkendala medan yang berat dan kondisi cuaca yang belum sepenuhnya stabil.
Pemerintah bersama BNPB menyatakan telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk penanganan darurat, termasuk pengiriman bantuan logistik, pelayanan kesehatan, penyediaan air bersih dan sanitasi, serta penyiapan hunian sementara bagi para pengungsi, khususnya anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.
Selain itu, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah awal rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur di wilayah terdampak setelah kondisi dinyatakan aman dan terkendali.









